Senin, 16 Agustus 2010

KISAH DENGAN ABANG 3 : TIRUN

Kisah ini terjadi ketika aku, Felix, telah lulus kuliah dan sedang bekerja disalah satu perusahaan asing terkemuka di bilangan Kuningan, Jakarta. Saat itu aku tinggal di sebuah kamar kos di bilangan Tomang. Daerah tempat kos ku memang sedang dalam masa pembangunan sehingga dimana mana banyak terlihat bangunan baru yang sedang dibangun. Hmm.. pemandangan indah buatku, apalagi ketika sore sore kalo jalan jalan di sekitar kompleks itu, banyak abang tukang bangunan yang sedang ngadem sambil melepas penat dengan bertelanjang dada. Di belakang rumah kos ku persis sedang dibangun sebuah kompleks perumahan elite yang dari depan kamarku langsung menghadap ke bedeng para tukangnya tidur. Sayangnya, bedeng itu terpisah jauh dengan bedeng tempat mereka mandi yang berada di pojokan seberang bedeng tsb. Namun, di depan kamar kosku, para tukang itu suka bercengkerama di papan kayu yang mereka buat sendiri sebagai dipan darurat diantara tembok pemisah rumah kosku dengan lahan pembangunan. Tak jarang aku mengintip mereka dari jendela kamar kosku. Ada yang suka bercengkerama sambil memakai sarung doang atau singlet ketat bahkan bertelanjang dada Cuma bersarung, ada juga yang suka kencing dari atas bedeng itu sehingga kontolnya keliatan dari kamarku, ada yang suka tidur malam di dipan itu bergerombol dengan bersarung dan bertelanjang dada (aku pernah meraba raba beberapa tukang yang sedang tidur malam bersarung itu, ternyata mereka tidak pernah memakai celana dalam alias bugil abis, Cuma bersarung saja!!!). Masih banyak lagi bahan omongan para tukang itu. Hehe…

Namun, bukan para abang tukang bangunan di belakang kosku yang menarik perhatian meski beberapa ada yang cute, hot dan hunk. Yang menjadi incaranku ialah Tirun, umur sekitar 20an akhir dengan tinggi sekitar 175cm berambut cepak kasar dan badan yang ketat, super keras, perut six pack bahkan ketika dia sedang duduk santai pun, perutnya tetap terpahat kotak kotak yang suka bikin aku pengen pingsan kalo ngeliatnya, ditambah trisep dan bisep besar namun proporsional dengan keseluruhan badannya, sungguh otot sempurna plus kulit coklat mempersembahkan bentuk laki laki jantan yang sempurna, yang selama ini sering kita lihat di tv atau majalah saja. Dialah yang selalu membuat aku berdesir tiap kali melihat tubuhnya.

Pertama kali aku melihatnya saat itu, aku sedang jalan kaki dari kosku ke warung depan untuk beli air mineral dingin. Saat itu Tirun dan teman temannya sedang menggali lobang di pekarangan proyek rumah yang sedang dikerjakannya. Dari celah celah pagar yang tertutup seng, aku bisa melihat beberapa cowok bertubuh kekar coklat sedang bekerja keras seperti memompa tanah namun dengan gerakan seperti menggali sumur, aku tidak tahu apa yang mereka sedang lakukan, dan tidak peduli juga. Yang aku perhatikan adalah, para tukang itu, sekitar enam tujuh orang, semuanya rata rata berumur 20 – 30an, semuanya hanya memakai celana dalam saja, beberapa ada yang bersinglet. Tapi kebanyakan Cuma bercelana dalam karena mereka sedang berkotor kotor ria dengan air lumpur dan tanah liat coklat yang memenuhi seluruh bagian tubuh kekar mereka. Wow… pemandangan indah. Tanpa memperhatikan sekelilingku, aku yang tadi sedang berjalan langsung berhenti sejenak di depan pintu pagar proyek itu sambil sedikit menungging karena celah pagar itu hanya setinggi 60cm dari tanah.

Hmm… karena situasi yang tidak memungkinkan siang itu, aku hanya menikmati pemandangan itu sebentar saja. Karena merasa tidak nyaman, kalo kalo satpam lewat di jalan itu pasti akan curiga dengan tingkah ku. Hihihi…

Sore harinya, aku mulai bergerilya. Aku nekad masuk ke dalam proyek itu. Kali ini bukan Cuma ngintip dari luar pagar, namun masuk melewati pagar yang selama ini aku jadikan lubang intip itu. Hmm.. ada beberapa tukang bangunan namun tidak kulihat sosok yang kuidamkan itu. Yang kujumpai Cuma satu tukang bangunan berumur 40an tahun yang kemudian kuketahui namanya Turah, dua tukang muda berumur 20an awal yang sedang bersiap untuk mandi karena membawa perlengkapan mandi. Semuanya bertelanjang dada dan berotot plus bentuk badan yang lumayan oke meski tidak sesempurna Tirun. Sejenak aku berbincang bincang basa basi dengan Turah yang ramah itu, dia menjelaskan tentang proyek itu, dari siapa yang punya sampai kantor arsitek yang mendesain rumah itu. Hingga pembicaraan mengarah ke berbagai topik pribadi seperti pengalaman kerjanya hingga status perkawinannya. Namun aku tidak begitu tertarik mendengar ocehannya, sementara “mengobrol” dengan Turah, mataku terus menjelajahi dua tukang muda yang lagi mandi sambil bugil di bagian belakang proyek itu, tepatnya di tempat air yang disalurkan lewat pipa kecil dan beralaskan batu besar. Dua tukang muda itu mandi sambil bugil tanpa merasa malu sedikitpun satu sama lain. Dari posisiku saat itu, dari jarak yang lumayan jauh, yang bisa kulihat hanyalah bentuk tubuh atletis tukang muda itu yang basah karena air dan sabun, jembut yang cukup lebat dan kontol yang sedang layu namun cukup besar karena bisa kulihat kepala kontolnya menyeruak dari lebatnya jembut mereka.

Sambil “mengobrol” dengan Turah yang terus berceloteh mengenai segala hal, aku tetap memasang mataku kepada dua tukang muda itu. Hehehe… sampai akhirnya, gelap pun tiba dan Turah minta ijin untuk mandi dan akan keluar makan bersama teman temannya. Akupun balik ke kos dengan bentol dimana mana di sekujur kakiku karena gigitan nyamuk.

Beberapa malam setelah itu, selepas gelap, aku bertekad untuk menghampiri tukang bangunan proyek itu. Aku jalan dan ketika mulai mendekati proyek itu, aku mulai mencari cari celah pagar untuk ngintip. Ternyata pagarnya tidak dikunci, yah aku dorong aja. Kepalaku masuk sebagian melongok longok bagian dalam proyek itu. Ternyata ada dua tukang bangunan yang lagi ngobrol diantara api unggun yang mereka buat. Salah satunya adalah Tirun. Saat itu dia hanya memakai celana jeans saja, bertelanjang dada dan tanpa kolor karena saat dia sedang jongkok dapat kulihat belahan pantatnya mengintip dari jeans nya. Kulit coklatnya sangat indah terkena cahaya kekuningan api unggun. Teman Tirun saat itu juga hanya bercelana jeans tanpa baju menutupi tubuh hot nya. Teman Tirun itu, sedikit lebih pendek dari Tirun dan berambut lebih rapi dengan kumis tipis dan wajah ramah. Tubuhnya sedikit lebih gempal namun otot ototnya tetap terexpose dengan kulit yang lebih cerah.

”malam mas” sapaku sambil melongokkan kepalaku diantara pagar.

“malam, mau cari siapa yah?” tanya Tirun menghampiriku.

“gak, Cuma mo ngobrol aja kok, boleh masuk mas?” tanyaku basa basi padahal seluruh tubuhku sudah gemetar karena melihat tubuh sempurna itu dalam jarak yang sangat dekat.

“boleh, silakan masuk. Saya panggilkan Turah yah” balasnya.

“gak usah mas, gak usah. Saya Cuma mo ngobrol sama mas aja kok” teriakku sedikit memaksa. Namun apa daya, Tirun tidak menghiraukan omonganku yang itu. Dia sudah terlanjur naik ke atas bedengnya untuk memanggil Turah.

Aku sedikit kecewa karena harus berhadapan dengan Turah lagi, padahal rencanaku adalah Cuma mo ngobrol sama Tirun dan temannya yang sexy juga itu. Akhirnya Tirun pun turun lagi beserta Turah di belakangnya sambil melempar senyum ke arahku. Aku membalas senyumannya dengan getir. Hehehe…

“apa kabar?” tanya Turah. “baik mas, lagi iseng nih di kos, ga tau mo ngapain yah kesini aja deh, nyari temen ngobrol” balasku.

“iya, gak apa apa, disini juga pada kesepian hehehe” jawabnya sambil mencari posisi duduk yang nyaman diatas bebatuan kasar. Aku pun juga sibuk mencari posisi yang enak buat ngobrol sambil menghadap ke arah Tirun yang Cuma bisa kulihat punggungnya saja karena dia menghadap ke api unggun sama temannya itu sementara aku dan Turah berada sekitar dua meteran di belakangnya.

“itu siapa mas?” tanyaku menunjuk ke arah Tirun.

“oh itu Tirun namanya, temen sekampung juga” jawab Turah.

“oh” balasku singkat sambil menatap tajam ke sosok tubuh sexy yang dari tempatku duduk Cuma kelihatan punggungnya dan belahan pantatnya yang mengintip dari celana jeansnya karena Tirun sedang jongkok saat itu. Pikiran jorokku mulai kemana mana, tanpa mempedulikan omongan omongan Turah yang mulai bercerita segala hal, aku hanya merespon sedikit sedikit. Pikiranku benar benar telah dirasuki oleh Tirun dan segala sex appeal yang dia miliki.

Hingga pembicaraan Turah mulai menyinggung soal keluarga, aku sedikit memancingnya “kalo di jakarta gini kan jauh dari istri mas, trus gimana dong penyalurannya?” tanyaku menggoda Turah, namun mengeraskan suaraku dengan maksud Tirun mendengar ucapanku.

“yah, gimana yah, susah susah gampang sih mas” jawab Turah sedikit tersipu.

Hahaha.. kena deh, pikirku. “nge jablay yah mas?” pancingku lagi.

“hehe.. nggak deh, sayang duitnya, yahhh… hmmm.. paling ngocok sendiri sih” jawab Turah polos.

“oh, kalo saya kan juga belom kawin, tapi paling seneng kalo diisep mas” pancingku lebih dalam.

“diisep, maksudnya?” tanya Turah.

“yah.. kontol saya diisep sama orang atau saya ngisep kontol orang” jawabku terus terang yang bikin Turah kaget setengah mati dan Tirun menoleh kearahku. Hahaha… kena deh tuh tukang.

“hah..? mas suka ngisep kontol juga? “ tanyanya kaget.

“iya, ntar kapan kapan saya bisa bantu mas Turah kalo mao” jawabku lantang dengan suara agak keras yang bikin Tirun dan temannya menoleh lagi.

Sejenak Turah terdiam beberapa saat, kelihatannya lagi mikir.

“sekarang mau coba saya isepin mas?” tanyaku bernafsu sambil menoleh ke arah Tirun meskipun sedang bertanya pada Turah.

Tirun dan temannya bangkit dan segera melangkah ke arahku. Sejenak jantungku serasa berhenti berdegup melihat dua sosok berotot dan sexy itu mendekat kearahku. Nafasku tak beraturan, darahku mendidih, sekujur tubuhku dingin namun tangan dan kakiku panas. Jantungku berdegup kencang tak beraturan membakar adrenalin dan segala nafsu serta hormon ku ke titik didih paling panas. Angin yang berdesir tak mampu menutupi keringat dingin yang membasahi tangan dan kakiku karena gugup dan segala rasa yang bercampur aduk.

Lalu Tirun dan temannya berdiri tepat diantara aku dan Turah. Kami saling bertatapan lama sambil berdiam, tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Hingga entah kekuatan dari mana, tiba tiba tanganku meraba dada Tirun yang menonjol ketat sexy lalu turun ke perut six packnya yang dibalur warna coklat sehat kulitnya lalu turun ke tonjolan di selangkangannya yang dapat kurasakan sedikit mengeras. Kulihat wajah Tirun menunjukkan rasa kepuasan sambil matanya setengah terpejam menikmati sentuhanku. Lalu teman Tirun memutar arah ke belakangku dan duduk tepat di belakang pantatku sambil mengangkangkan kedua kakinya hingga pantatku berhimpitan dengan kontolnya sambil ia menggesek gesekan kontolnya yang mulai mengeras ke pantatku. Turah pun tidak tinggal diam, dia langsung membuka celana nya sambil mengeluarkan kontolnya lalu mengocok sendiri.

Aku tak menyia nyiakan waktu lagi, aku langsung bangkit dari duduk untuk berlutut di depan selangkangan Tirun dan segera kubuka celana Tirun lalu mengisap batang kontolnya yang sepanjang 17cm berwarna coklat gelap dan berdenyut denyut keras serta berurat besar besar. Jembutnya lebat namun tersusun rapi, tak terpencar jauh. Kuhisap batang kontolnya yang berdenyut denyut uratnya dan mengeluarkan air precum cukup banyak karena aku bisa merasakan asin gurih di dalam mulutku. Akupun berlutut di depan kontol Tirun, teman Tirun yang aku tak tau namanya siapa itu tetap bekerja di belakangku, sambil ikutan berlutut dan menggesek gesekkan kontolnya yang kini sudah keluar dari celananya ke belahan pantatku. Turah masih sibuk mengocok sendiri sambil meracau.

Setelah bertahan cukup lama di posisi ini, Tirun pun mengangkat aku berdiri, melucuti kaosku dan mempelorotkan celana ku, lalu ia menyuruh aku menungging dan langsung menjilat melahap habis lubang pantatku hingga basah oleh air liur dan jilatan liarnya. Teman Tirun lalu maju ke depan dan mengacung acungkan kontolnya yang sudah tegak berdiri ngaceng sempurna sebesar 15 cm namun tebal sekali, sekitar 6cm diameternya. Warnanya hitam gelap kecoklatan. Langsung kuhisap kontol tebal itu dan kumain mainkan dalam mulutku. Turah mulai gelisah karena kepengen dapet jatah juga, lalu ia mengambil tanganku dan meletakkannya di kontolnya yang ngaceng juga, sekitar 16cm namun kurus tapi banyak uratnya besar besar dan kepala kontolnya lebih besar dari kontolnya.

Aku merasakan kenikmatan luar biasa dikerjai oleh tiga tukang lelaki sejati itu, satu di lobang anusku, satu di mulutku dengan kontolnya, dan satu lagi di tanganku juga dengan kontolnya. Puas membasahi pantatku dengan nafsu liar nya, Tirun kini siap membobol pantatku dengan hujaman kontolnya. Pelan pelan ia mulai mencoba memasukkan batang kejantanannya ke dalam lubang pantatku. Perih sakit namun rangsangan terus menerus di tubuh putih mulusku yang dijilati Turah dan kontolku yang diisep teman Tirun membuat aku tetap ngaceng. Pelan pelan namun pasti, kontol Tirun mulai menyesaki lobang pantatku. Dan Tirun pun memulai permainan nakalnya. Sambil berdiri di depan perapian di luar bedeng di bawah langit luas dengan disaksikan bintang, aku berdiri di atas tumpukan puing puing bangunan dengan lobang pantatku di penuhi kontol Tirun dari belakang dan teman Tirun menjepit tubuhku dengan tubuhnya. Tubuhku serasa seperti sandwich yang dijepit dari belakang oleh Tirun dan dari depan oleh teman Tirun itu. Lobangku di entot Tirun dengan ganas dan dahsyat dari belakang sambil berdiri, dan aku menghadap teman Tirun sambil saling menggosok gosokkan kontol kami masing masing. Turah berdiri menjepit tubuh teman Tirun itu dari belakang. Jadi posisi kami seperti sedang berdiri namun saling menghimpit dan menggesek gesekkan tubuh kami ke tubuh yang lain mencari kenikmatan.

Angin yang bertiup di langit lepas malam itu tidak mampu menutupi kepanasan kami yang makin menjadi saat Turah mengentot lubang pantat teman Tirun dari belakang. Bisakah kamu bayangkan? Tirun mengentot aku dari belakang, aku dan teman Tirun berhadapan saling menggesek kontol kami, dan teman Tirun itu dientot oleh bapak Turah??? Hahaha… sungguh pengalaman yang tak akan pernah dapat kuhapus dari ingatan homoku. Keringat membasahi tubuh kami berempat yang saling menempel, menindih dan menjepit. Kontolku serasa sudah mau penuh, lobang pantatku juga serasa makin panas oleh pompaan kontol Tirun di dalam tubuhku. Sambil dientot dan mengentot, kami berpelukan, berciuman liar, bertukar lidah, menjilat jilat tubuh yang lain, menggigit kecil puting, mengecup mesra otot dada yang menonjol, meremas otot lengan yang kekar, memeluk tubuh yang basah oleh keringat sambil meraba dan menjamah rayah tubuh yang lain dari kontol perut dada punggung paha dan bagian lain semua dijelajahi dengan penuh kenikmatan. Tirun memelukku dari belakang semakin keras pertanda dia akan mencapai puncak kenikmatannya. Lalu akupun bersiap menerima limpahan pejuhnya dengan mengocok kontolku makin kencang bersama dengan kontol teman Tirun. Tak lama pun kontol Tirun memuntahkan cairan hangat putih kentalnya ke dalam lobang ku, membenihi kejantananku dari dalam, akupun tak kuasa menahan gairahku lalu memuntahkan cairan kejantananku di perut teman Tirun.

Teman Tirun yang masih dientot oleh Turah pun makin keras mengocok kontolnya hingga memuncratkan spermanya tinggi ke udara malam yang lembab itu. Hal itu membuat lobang pantatnya mengeras dan menjepit kontol Turah yang masih maju mundur masuk keluar di lobang pantatnya juga memuntahkan lahar putih panasnya ke dalam anusnya.

Kami berempat pun melepaskan diri dari jepitan jepitan tubuh nafsu dan mulai terkulai lemas terduduk di atas bebatuan besar puing puing bangunan beratapkan langit malam yang bertaburan bintang. Keringat masih membasahi tubuh kami berempat namun kelelahan yang sangat membuat kami tak peduli lagi. Aku terkulai diatas tubuh kekar tebal Tirun dan Turah terkulai sambil berpelukan dengan teman Tirun sambil berbugil di langit terbuka.

KISAH DENGAN ABANG 2 : JOHAN

Ini adalah kisah nyata yang benar benar terjadi dalam hidupku. Bagi yang belum kenal atau belum pernah membaca cerita ku bagian pertama, namaku Felix Indonesian Chinese yang tinggal sendirian di rumah kosong milik pamanku di daerah Daan Mogot Jakarta barat. Saat itu aku sudah bekerja di salah satu perusahaan garment yang main core business nya adalah produk celana dalam pria. Kantor ku di daerah Jakarta kota. Aku bekerja sebagai art designer untuk beberapa brand diantaranya license brand untuk baju anak anak seperti Disney dll, selain celana dalam pria itu sendiri sebagai home brand.

Kejadian ini berlangsung saat setiap pulang kantor jam 6 an sore, aku langsung mandi dan membeli makan di depan kompleks. Karena aku tinggal sendiri jadi tidak ada yang memasak untukku, maka tiap hari aku selalu beli makanan di luar. Nah, setiap aku selesai beli makan sekitar jam 6.30an, saat sekitar aku kembali dari warung ke rumahku, di depan rumahku selalu lewat seorang cowo pribumi dengan tinggi badan sekitar 165cm dan tubuh yang berotot padat berisi dan nikmat untuk dikenyot. Khihihi… keliatannya sih begitu. Karena penasaran, setiap malam abis beli makan aku tidak langsung makan makananku, tapi selalu nunggu di depan pagar untuk melihat target ku itu.

Benar saja, tiap malam sekitar jam segituan selalu dia lewat depan rumahku. Hmm.. diam diam kuperhatikan, sexy juga loh. Kadang dia lewat depan rumahku sambil telanjang dada dengan kaosnya digantung di pundaknya. Mungkin kepanasan kali di bus. Kadang dia jalan sambil mengangkat kaosnya setengah dada.

Lalu suatu hari aku memberanikan diri untuk menjeratnya dalam perangkap ku. Sudah kusiapkan semua. Lalu aku menunggu saat saat dia lewat depan rumahku. Begitu kulihat dia lewat, langsung aku keluar rumah dan mengunci pintu pagar lalu mengejar dia dari belakang. Wah, jalannya cepat juga yah. Sampai dia sudah berbelok ke gang berikutnya baru aku berhasil mengejarnya. Lalu kupanggil “mas, mas” “iya, kenapa?” tanyanya. “tinggal dimana mas?” tanyaku basa basi. “oh di belakang situ, kenapa?” “oh, ga papa, mas mo ikut casting model celana dalam cowo ga?, saya liat badan mas bagus bentuknya” jurus pertamaku. “ahh, pendek gini siapa yang mau jadi model?” balasnya. “yah, namanya juga iklan celana dalam, yang penting kan bentuk badan mas, ga penting itu tinggi apa ngga” pancingku.

“coba aja yah, Cuma casting doang kok, mas tinggal buka baju semua, kasi liat bentuk badan yang bener2 polos alias bugil sekalian divideo in sama saya. Tujuannya Cuma buat kasi liat kalo mas ga punya tato di badan” reaksiku melancarkan serangan. “ahh, ga ah, kaku saya” dia mengelak. “yah, coba dulu deh, tar saya bantu, ok?” tutupku yakin dia akan terjebak. “oke deh, saya coba tapi saya pulang dulu yah mandi bersih bersih” “ga usah, mandi tempatku aja” tutupku.

Oke, akhirnya dia seperti kerbau yang ditusuk hidungnya, mengikuti kemauanku. Kami berjalan ke arah darimana kami datang lalu menuju rumahku. Semua sudah kusiapkan. Aku perlihatkan gambar gambar model celana dalam itu yang aku peroleh dari kantorku. Haha… berguna juga nih. Pikirku dalam hati. “mas tinggal buka baju semuanya supaya keliatan kalo ada tato apa ngga, trus sambil saya videoin trus mas pegang kertas yang ada tulisan nama mas, umur dan tinggi berat badan sambil mas bacain semuanya yang di kertas itu dengan suara yang jelas oke?” jelasku panjang lebar.

“oke, saya coba yah, tapi mandi dulu biar bersih” balasnya. “oke” jawabku sambil menyalakan lampu kamar mandi dan mempersilahkannya memakai kamar mandi ku. Setelah dia bersih bersih sekitar lima menitan, lalu dengan bugil dan kontolnya yang masih layu itu tergantung bergoyang goyang ke kiri kanan seiring dia berjalan keluar dari kamar mandi dan menghampiriku. Aku menarik nafas dalam dalam menahan gejolak birahiku. Haha… kontol di depan ku sekarang. Puas rasanya melihat kontol itu meski masih layu. “nama mas siapa, umur, tinggi berat badan?” tanyaku spontan. “johan, umur 24, tinggi 170 centi, berat 65 kilo” jawabnya. “170centi mah setinggi saya dong tingginya” protesku sambil menuliskan angka 165 ke kertas itu. Lalu kuberikan kertas nya sambil menyalakan kamera video hapeku. “siap siap, latihan dulu coba pertama bacain semua yang ada di kertas itu mulai dari nama, umur, tinggi, berat trus abis itu muter badannya” perintahku. Lalu beberapa kali ia mencoba namun ia tidak merasa puas, baru menyebutkan nama sudah minta ulang. “oke, mulai lagi” perintahku sambil camera video ku standby menangkap gambar kontolnya.

Setelah beberapa kali mencoba akhirnya dia merasa cukup. Ya sudah, kami menyelesaikan tahap pertama casting ini. “nah, sekarang tahap kedua, mas harus berpose duduk di sofa sambil tetep bugil trus pose yang paling bagus yah” perintahku lagi. Lalu dia mulai mencari cari posisi yang menurutnya keren. Aku tertawa dalam hati sambil memperhatikan kontolnya yang tergantung bebas itu. “mas, kontolnya dikocok dikit biar keliatan gedean” perintahku. Lalu ia mulai mengocok kontolnya perlahan lahan dan setelah beberapa pose, kontolnya itu sedikit ngaceng.

“mas, kontolnya ga bisa digedein lagi, biar menantang gitu loh” pancingku. “ga enak, malu” jawabnya polos. “sini saya bantu kocok” sambil mengarahkan tanganku langsung ke selangkangannya dan mengambil daging panjang coklat itu dari selangkangannya. Hmm… aku kocok pelan pelan lalu dia merasa keenakan sambil melepaskan tangannya sendiri dari kontolnya. Sehingga aku bebas memainkan kontolnya. Lama kelamaan dia mulai terbuai dengan permainan kocokan ku. Lalu semakin membesarlah batang kejantanannya itu. Membesar dan mengeluarkan urat uratnya, berdenyut denyut siap memuntahkan lava panas berwarna putih kental keluar. Hingga akhirnya mas Johan itu tidak bisa lagi menahan puncak birahi lelakinya sehingga lava putih kental hangat itu benar benar muncrat dari lubang kepala kontolnya.

Sejak saat itu kami sering mengulang kejadian itu, namun semakin sering kami melakukannya, semakin cepat ia ejakulasi. Sampai sampai dia harus ejakulasi dua hingga tiga kali untuk mengimbangi permainan ku. Ternyata saat pertama kali aku menjebaknya, dia sudah tau kalo itu hanya permainan akal akalanku saja untuk mendapatkan tubuhnya, belakangan ia baru mengakui kalo ia sudah mencium gelagat maksiatku sejak pertama kali bertemu. Namun karena ia juga suka melakukan itu, maka ia menurut saja. Itu pengakuannya!

KISAH DENGAN ABANG 1 : FIRMAN

Dear Pembaca,

Pertama, perkenalkan nama saya Felix, saya adalah seorang Indonesian Chinese yang saat kejadian berlangsung sedang menyelesaikan kuliah saya di salah satu universitas swasta di Jakarta barat. Kejadian ini adalah kejadian nyata yang benar benar terjadi dalam kehidupan saya. Saat itu saya tinggal di sebuah rumah milik paman saya di daerah Daan Mogot. Saya menempati rumah itu sendirian karena sebenarnya rumah itu adalah rumah tua yang sudah tak berpenghuni selama tiga tahun sejak paman saya membelinya untuk anaknya. Namun, anaknya lebih memilih tinggal di ruko daripada rumah itu. Jadilah saya yang menempati rumah kosong itu. Banyak kejadian seru yang terjadi selama saya menempati rumah itu sendirian selama hampir 4 tahun. Salah satunya adalah cerita berikut ini :

Pagi itu saya bangun kesiangan seperti biasa. Saya langsung bangun terperanjat dari tempat tidur, menyambar handuk dan langsung menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi. Tergesa gesa saya memakai kaos dan celana sambil memanasi mesin motor saya. Dua puluh menit kemudian saya telah siap dan sedang mengunci pintu gerbang rumah lalu sambil bergegas memacu motor saya menuju kampus. Baru beberapa meter saya memacu motor dari rumah saya, saya berpapasan dengan sesosok tubuh tegap padat berisi dengan baju kaos ketat warna biru dengan lengan tiga perempat sedang mendorong gerobak air isi ulang. Wow, pagi yang indah. Saya segera men-scan sosok itu dari atas ke bawah hingga atas lagi. Phiuuhh.. saya menahan nafas. Rambut cepak disisir rapi namun tidak klimis member kesan macho yang sungguh natural, wajah coklat dengan sedikit jerawat lengkap dengan tulang pipi dan rahang a la Caucasian (bule), badan tegap padat berisi dibungkus kaos ketat warna biru dan celana jeans biru, sedang mendorong gerobak air mineral isi ulang. Wow… jantung saya berdetak keras dan terasa sulit untuk melupakan sosok hot itu. Peristiwa beberapa detik pagi itu sungguh berkesan dan sulit untuk dilupakan.

Sejak saat itu saya selalu memperhatikan jalan depan rumah saya. Jalan depan rumah adalah jalan strategis karena rumah saya terletak di tusuk sate dimana menghubungkan jalan utama dengan jalan jalan yang lebih kecil. Hmmm… pikiran mesum saya mulai berputar. Di kompleks saya kan Cuma ada tiga toko yang menjual air isi ulang mineral itu. Pasti abang itu bekerja di salah satunya. Tidak sulit untuk mencarinya. Lalu, suatu sore sepulang dari kuliah sekitar jam 3 an, saya iseng untuk mencari tau abang itu. Lalu saya mulai browse dari toko air mineral yang paling dekat dengan rumah saya, yaitu yang ada di ujung jalan depan rumah. Mata saya mulai berkeliling mencari sosok idaman itu. Hihihi… ternyata abang itu sedang duduk duduk nyantai di depan toko itu. Mungkin sedang gak ada kerjaan kali ya, soalnya siang2 gini kan orang2 kompleks lagi pada kerja ato tidur siang, siapa juga yang bakal mesen air mineral jam segini? Lalu pikiran yang didorong nafsu saya mulai bereaksi, saya berlagak nanya ini itu, “jual air isi ulang yah mas?” tanyaku memulai pembicaraan. “iya” jawab abang itu sambil duduk nyantai dan mengangkat kaos ketatnya (kali ini warna ijo gelap) sampai sebatas dada bawah putting mempertontonkan otot perutnya yang tidak six pack tapi padat dan rata. “boleh ambil galon kosong sekarang ke rumah saya?” pancingku. “boleh, dimana?” balasnya. “B2 nomor 14” jawabku singkat. Lalu dia segera menurunkan kaosnya ke posisi normal yang memindahkan perhatianku sejak awal sambil segera mengambil sepedanya. Sepeda engkol yang bagian belakangnya telah dimodif sehingga dapat muat tiga galon. Dua di sisi kiri dan kanan, satu diatas kursi belakang.

Saya segera berlari pulang untuk menyiapkan galon yang akan diambilnya. Lalu tak lama, abang itu sudah menunggu di depan rumah saya untuk mengambil galon kosong dan kembali ke tokonya untuk menukar dengan yang telah terisi. Lima belas menit menunggunya merupakan saat saat yang paling mendebarkan karena ini kali pertama saya bertindak senakal ini. Saat itu, saya belum pernah mengenal sex dengan siapapun kecuali dengan tangan saya (onani maksudnya). Apalagi dengan seorang laki laki dewasa. Sejauh yang pernah saya lakukan hanyalah mengintip supir supir truk mandi di belakang rumah. Itu saja. Gak pernah sampai sejauh mengundang mereka masuk kamar atau rumah saya untuk ber-having sex. Dag dig dug…. Ooohh… apa yang harus saya lakukan? Pertanyaan itu berkali kali muncul dalam pikiran. “AIR!!!!!!!!!!!” teriakan dari depan pagar setengah mengagetkanku. Itu dia! Lalu saya membukakan pintu pagar dan menyilakan dia menurunkan galon yang terisi dan meletakkannya di teras rumah. Wow, badan yang bagus, pikirku dalam hati sambil mataku tak pernah lepas dari tubuh padat berisi miliknya.

“ini taro dimana?” tanyanya. “situ aja bang gak apa apa kok” jawabku. Lalu ia meletakkan galon itu di teras persis depan pintu masuk ruang tamuku. Lalu saya bergegas mengambil uang dua puluh ribuan dan memberikannya. “wah, gak ada kembaliannya” katanya. “emang brapa bang?” “lima ribu doang kok, ga ada duit kecil aja? Jawabnya. “yah, gak ada” balasku. Lalu kami terdiam sejenak sambil memperhatikan masing masing. “tapi abang boleh ambil semua kembaliannya kok” ucapku memberanikan diri. “hah? Maksudnya” tanyanya tak kalah terkejut. “iya, abang boleh ambil kembaliannya semua, tapi ada satu syaratnya” balasku. “apa syaratnya?” tanyanya sambil mengangkat kaos ketat ijo gelapnya sebatas dada memperlihatkan otot perut dan pinggangnya yang sungguh sexy karena mengkilat kena matahari dan basah karena keringat. Hari itu memang sungguh panas dan berdebu. Mmm… membuatku sungguh terangsang melihat perut dan pinggangnya yang sangat sexy itu. “syaratnya, abang buka semua baju biar saya bisa liat abang bugil” jawabku sambil memberanikan tanganku memegang perut dan pinggangnya yang basah itu. Sejenak dia tersenyum, “wah, maaf saya ga bisa kalo gitu, biar saya balik ke toko dulu yah buat ambil kembaliannya” “apa susahnya sih bang? Kan tinggal buka doang, sekarang aja udah dibuka setengah tuh” jawabku agak memaksanya. “ga bisa, soalnya saya pake jimat yang ngelarang gituan” “ohh... emang mo gituan kaya gimana?” jawabku. “kan ga sampe gitu gituan, Cuma liat liatan aja kok, sama aja kaya abang lagi mandi ato tuker baju kan?” “ yah tetep ga bisa” jawabnya gigih. “ya udah kalo ga bisa” pasrah jawabku. Akhirnya ia mengambil uang dua puluh ribuan ku dan kembali ke tokonya untuk mengambil kembalian. Lalu lima menit kemudian, ia kembali lagi dan menyerahkan kembaliannya kepadaku dari balik pagar diatas sepedanya. Huh, hari itu aku terpaksa menuntaskan nafsuku dengan coli sendiri deh. Gagal semua!

Sejak saat itu aku malu sekali jika bertemu dengannya. Maka saya selalu menghindar darinya sebisa mungkin. Apa kata dia? Dia tau kalo aku gay. Gimana kalo dia nyebarin peristiwa itu ke teman temannya? Gimana kalo sampe tetanggaku tau? Pikiran jelek itu terus menyerangku. Sejak saat itu aku selalu beli air dari tempat lain dan tidak pernah beli di tempat dimana ia bekerja lagi.

Tapi takdir menentukan lain, suatu siang aku pulang dari kampus naik motor kehujanan. Saat itu jam 2an namun cuaca sangat mendung dan hujan lebat sekali. Sampai di rumah aku langsung menggigil karena air hujan itu membasahi tubuhku hingga ke lapisan celana dalamku. Aku langsung melepas kaosku dan celana dalamku hingga bugil. Dingin sekali. Lalu, saat aku hendak menaruh celana jeansku yang basah di tali jemuran depan kompresor AC depan teras rumahku, sekilas aku melihat abang itu dengan sepedanya. Kali ini ia pake singlet putih doang!!!!!!!!!!!!! Oh my God, he’s so sexy!!!! Singlet putihnya kontras sekali dengan kulit coklatnya. Badannya yang hot itu basah oleh hujan sehingga singlet putihnya itu menjiplak seluruh tubuhnya dengan jelas sekali. Oh my God!!!! Aku jadi horny banget. Lalu, aku ambil telpon dan menelpon toko tempatnya bekerja untuk memesan air. Galonku masih ada satu yang terisi sebenarnya, jadi hari itu aku hanya pesan satu galon untuk diambilnya. Tak lama, “AIR!!!!!” teriakan itu mengagetkanku. Itu dia! Aku bergegas menyambar celana jeansku untuk menutupi kebugilanku lalu membukakan pintu dan memberikan galon kosong kepadanya. Senyuman kecil menghiasi bibir tipisnya. Ooooohhhhhhhh….. gila!!! Sexy banget!!!!!!!! Lalu dia cepat cepat mengambil galonku dan kembali ke tokonya. Aku harus bisa megang badannya!! Itu yang jadi tujuanku saat itu. Tapi caranya gimana yah? Aku putar otak. Hmm.. belaga baik nawarin minuman hangat trus masukin obat perangsang? Ato belaga nawarin dia istirahat dulu sambil nunggu ujan berenti trus setelin film bokep? Ato nawarin dia duit lagi buat langsung ML denganku? “AIR!!!!!!!!!” ahhh itu dia!!

Segera kubukakan pintu pagar rumahku dan mempersilakannya masuk. Jantungku berdegup keras sekali. Sekujur tubuhku jadi panas mendidih, tapi tangan dan kakiku dingin sekali. Aku sengaja hanya memakai jeans basahku tanpa CD, tanpa baju menutupi badan atletis ku yang putih mulus. Pikirku mesum saat itu, siapa tau aja dia bakal terangsang ngeliat tubuhku yang putih mulus ini. Dia menaruh galonku di teras lalu memberikan bon kepadaku. Aku memberikan uang plus tips ala kadar kepadanya. “makasih” jawabnya singkat. Lalu segera kembali ke sepedanya yang terguyur hujan di pinggir jalan depan pagar rumahku. Aku begitu mau memilikinya namun mengingat kejadian terakhir itu aku jadi mengurungkan niatku lagi. Ya sudahlah, tar gue ngocok sendiri aja abis liat badan bagus itu dari deket. Gumamku dalam hati. Pas di bibir pagar, saat aku telah memegang pintu untuk menguncinya kembali, tiba tiba ia berhenti melangkah dan diam sejenak. “baru pulang yah? Tanyanya ramah. “iya” jawabku memecah grogi ku. “nih kebasahan makanya” jawabku lagi sambil memperlihatkan tubuh putih mulus cina ku yang agak basah dan panas dingin yang Cuma ditutupi oleh celana jeans basah pula. “ soal waktu itu, masih mau? “ tanyanya.

PYARRRRRRRRRR!!!!!!!!! Seperti disambar petir rasanya. “tapi katanya abang ga bisa karena pake jimat?” tanyaku polos. “oh, jimat itu udah dilepas sekarang” balasnya. YESSSSSSSSS!!!!!!!! Dalam hati ku meloncat kegirangan. Lampu hijau nih, pikirku. “boleh sih bang” “brapa duit? Saya lagi ga ada duit” balasku. “lima puluh sampe ngecrot” jawabnya. “dua lima deh sekali ngecrot, ga lama kok bang” pintaku. “ tiga puluh deh setengah jam” jawabnya lagi. “ok, deal. Masukin sepedanya dulu ya bang” tutupku. Lalu aku bukakan pintu pagar yang lebar dan membantunya memasukkan sepedanya ke terasku yang terlindungi hujan dan panas karena ada pergola. Aku kunci pintu pagar dan segera masuk menyusulnya ke ruang tamu. Segera ku tutup pintu ruang tamu itu dan kukunci dari dalam juga.

Abang itu berdiri tepat di tengah ruang tamu sambil menjulurkan tangannya “Firman” katanya singkat. “Felix” jawabku sambil menyambut tangannya. Lalu ia duduk di sofa sambil langsung terlentang santai. Pasrah untuk aku apakan saja. Melihat itu, aku langsung beraksi, menciumi wajahnya yang kuidamkan itu sampai wajahnya basah oleh ludah dan sedotanku. Lalu aku berpindah ke tubuh padat nya yang berisi yang telah menghiasi mimpi mesumku sejak pertama kali ketemu. Aku buka kaos ketatnya dan badannya yang padat berisi sexy itu tergeletak di depanku untuk sebebasnya aku apakan saja. Putting coklatnya yang menggairahkan itu selalu tegak berdiri menantang untuk disedot. Ahh.. putting itu jadi milikku juga akhirnya. Aku sedot, aku jilati dada bidangnya yang coklat, penuh otot dan keras itu. Aku jilati ketiaknya yang ditumbuhi bulu2 ketiak yang tidak terlalu banyak namun tersusun rapi. Aku peluk, aku putar badannya, aku ciumi hingga puas, aku gigit otot bisep dan trisepnya yang besar proporsional dan keras itu, aku ciumi lengannya yang ditumbuhi bulu halus dan berotot itu, aku gigit punggungnya yang terpahat sempurna, aku aaaaaaaaaarrrrrghhhhhhhhhhhhhh…. Hot banget sih kamu!

Puas bermain di bagian atas tubuhnya, aku pindah ke perutnya yang menggodaku tadi, aku jilati perut rata nya yang keras, aku putar lidah ku di sekitar bulu halus antara pusar dan jembutnya. Aku pelorotkan celana jeans nya. Sekarang yang tersisa hanya segundukan daging lemas di tutup oleh celana dalam bercorak loreng army. Aku ciumi dari luar, aku basahi celana loreng itu. Ternyata dia bukan gay yah? Kok masih lemas kontolnya? Pikirku dalam hati. Tak sabar segera ku lepaskan daging terbungkus itu dari sarangnya. Hmmm… aku berhenti sebentar untuk memperhatikan kontol pertama dalam hidupku. Tidak terlalu besar, sekitar 10cm panjang dan 5cm diameter. Disunat ketat dengan garis sunat memisahkan bagian bawah berwarna coklat dan atas berwarna coklat krem muda hampir putih. Kontol coklat berujung putih itu aku sedot, aku jilati hingga makin lama makin membesar hingga sekitar 17cm dan 5cm diameternya. Hmmm… sedikit demi sedikit mulai keluar precum cairan semen membasahi ujung kontol itu. Asin legit rasanya! Aku sedot terus tuh kontol coklat, aku jilati, aku sedot kencang kencang sampai kempot pipiku. Ahhh… begini rasanya menjilati kontol yah? Nikmat banget, bikin ketagihan.

Pelan pelan Firman mulai mendesis keenakan dan melebarkan bukaan selangkangannya, mendorong kepalaku masuk lebih dalam lagi ke sela sela selangkangannya. “Aaahhhh uhhhhh teruss teruusss enakkk” racaunya. Maju mundur kepalaku menyedot kontolnya. Kulihat sepintas wajahnya merem melek keenakan sambil menggigit gigit kecil bibirnya. Aku isap kontolnya sambil jari jari kiriku memainkan putingnya dan jari kananku memainkan lobang boolnya. Hmmm… pantatnya juga keras terbentuk sempurna. Menantang untuk dientot juga. Kontolnya sudah cenat cenut untuk mengeluarkan isinya. Segera kulepas jeansku dan mengocok kontolku sendiri sambil berjongkok di depan kontol Firman. “ahhhhh ahhhhh ahhhh…. Gue keluar nih… ahhh ahhhhhhhhhhhhhhhhh”. Firman tak kuasa menahan nafsunya yang meletupkan pejuhnya ke mukaku. Terus kuisep dan kusedot kontol Firman hingga pejuhnya banyak muncrat ke mukaku. CROOOTTTTTTT CROOOOOOOOOTTTTT CROOOOOOOOOOOOOOTTTTTTTTTTT. Banyak sekali pejuhnya, kujilati semua. Hmmm…. Pejuh yang masih segar, baru keluar dari pabriknya. Hangat, gurih.

Firman tergeletak lemas lunglai sambil tetap di posisi terlentang diatas sofa. Sedang aku beranjak menduduki badannya yang padat berotot itu. Aku kocok kontol panjang kurusku sampai cepat dan kugesekkan kontolku dengan kontolnya. Kadang kontolnya ku selipkan di antara lobang pantatku dan kugesek gesekkan dengan kulit silitku. Lalu kontolku kupukul pukul ke dada bidang berototnya yang padat berisi itu. Ooohhhh, Firman, sungguh sexy. Keringat mulai membasahi kami. Kontolku terus kukocok di atas dadanya yang sekarang telah basah oleh keringat. Tubuhku yang juga basah keringat menduduki paha Firman yang juga basah keringatnya sendiri. HOT sekali. Akhirnya aku gak tahan lagi oleh rangsangan kontol Firman di lobang pantatku. “Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh………….. Bang, aku keluar!!!!!! Aaaaaaaahhhhhhhh” badanku terguncang hebat dan mengecrotkan maniku di dada Firman yang basah oleh keringat tercampur pejuhku. “ahhh ahhh ahhh…” nafasku habis, tersengal sengal. Tangan Firman yang berotot itu memeluk ku dari depan, dada kami bertemu sekarang basah semua. Lengket oleh keringat dan pejuh bercampur baru. Bau badan kami bersatu. Perut kami saling bergesekan. Kontol kami saling menumpuk. Tubuhku terkulai lemas terduduk diatas paha Firman yang terlentang diatas sofa ruang tamuku.

Hujan telah berhenti, kami telah selesai mencuci bersih semua hasil perbuatan mesum kami. Firman kuselipkan uang tiga puluh ribu dan bergegas kembali kerja. Kata terakhirnya hari itu “ jangan kasi tau siapa siapa yah?! “ sambil mengedipkan mata kirinya dan memacu sepeda engkolnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar